Pasal: Amalan Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

Oleh: Abu Hazwan [ Islam Kedamaian ]
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Ibadah di dalamnya dilipatgandakan pahalanya, dan Allah menjadikannya sebagai waktu untuk berlomba-lomba dalam kebaikan guna meraih keridhaan-Nya. Oleh karena itu, seorang Muslim wajib memperbagus penyambutannya agar memperoleh kebaikan sebesar-besarnya.
Berikut amalan-amalan yang harus dipersiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan:
1. Bertaubat kepada Allah dengan Taubat Nasuha
Wajib bagi kita menyambut bulan mulia ini dengan taubat nasuha atas setiap dosa.
Jika dosa tersebut hanya berkaitan antara hamba dengan Allah (tanpa menyangkut hak sesama hamba), maka terdapat tiga syarat:
- Meninggalkan maksiat tersebut dan tidak mengulanginya lagi.
- Menyesali perbuatan dosa itu dengan sungguh-sungguh.
- Berazam kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu di masa depan.
Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama hamba, maka syarat taubatnya ada empat (tiga syarat di atas ditambah satu syarat lagi), yaitu melepaskan diri dari tuntutan atau hak orang lain yang pernah dizalimi:
- Jika berupa harta atau semisalnya, wajib dikembalikan kepadanya.
- Jika berupa tuduhan zina (qadzaf) atau sejenisnya, maka ia harus menyerahkan dirinya untuk qishash atau meminta maaf kepada yang dituduh.
- Jika berupa ghibah (menggunjing), maka wajib meminta kehalalan darinya dengan memohon maaf.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya berkenaan dengan kehormatannya atau yang lainnya, hendaklah ia meminta kehalalan darinya hari ini sebelum tiba saat tidak ada lagi dinar maupun dirham..."
(HR. Al-Bukhari no. 2269)
Taubat tidak terbatas pada orang yang bermaksiat saja, melainkan wajib bagi setiap muslim. Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (taubat yang semurni-murninya)."
(QS. At-Tahrim: 8)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri adalah manusia yang paling banyak bertaubat. Beliau bersabda:
"Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari."
(HR. Bukhari)
Renungan untuk Kita:
Wahai engkau yang meremehkan ketaatan kepada Rabbmu!
Wahai engkau yang meremehkan shalat!
Wahai engkau yang meremehkan shalat Subuh!
Wahai engkau yang terang-terangan berbuat dosa!
Wahai engkau yang tidak menundukkan pandangan dari yang haram!
Wahai engkau yang banyak berbuat dosa!
Kembalilah kepada Rabbmu! Bertaubatlah, karena Ramadhan telah datang—bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
2. Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Kita telah diperingatkan secara tegas terhadap kedurhakaan kepada orang tua, karena durhaka kepada mereka termasuk sebab tidak diterimanya ibadah.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ada tiga golongan yang tidak diterima Allah amal saleh maupun ibadah wajibnya: orang yang durhaka kepada orang tua, orang yang mengungkit pemberiannya, dan orang yang mendustakan takdir."
(HR. Ibnu Abi Asim, Shahih)
Allah tidak menerima taubat, ibadah sunnah, ibadah wajib, maupun fidyah dari golongan tersebut. Termasuk kedurhakaan adalah menyakiti keduanya (baik fisik maupun hati) atau menentang perintah mereka selama bukan dalam perkara maksiat.
3. Menyudahi Permusuhan
Pertengkaran dan permusuhan menjadi salah satu penyebab utama ditutupnya pintu ampunan bagi kedua belah pihak yang berselisih.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"...Maka pada hari itu (Senin & Kamis), Allah ‘Azza wa Jalla memberikan ampunan kepada setiap hamba yang tidak menyekutukan-Nya..., kecuali kepada seseorang yang sedang ada permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan, ‘Tahanlah keduanya hingga mereka berdamai. Tahanlah keduanya hingga mereka berdamai.’"
(HR. Muslim)
Ampunan baru dikabulkan setelah kedua pihak yang bermusuhan berdamai dan saling mencintai. Bahkan, mendiamkan saudara sesama muslim lebih dari 3 hari diancam dengan neraka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Siapa yang menjauhi lebih dari tiga hari lalu meninggal dunia, maka ia akan masuk neraka."
(HR. Abu Dawud)
4. Menuntut Ilmu (Hukum Seputar Puasa)
Ibadah puasa tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat utama, maka wajib bagi kita mempelajarinya:
Syarat Pertama: Ikhlas karena Allah
Ikhlas berarti mengharapkan wajah Allah, pahala-Nya, dan keridhaan-Nya. Allah Ta'ala berfirman:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Syarat Kedua: Mengikuti Tuntunan Rasulullah (Ittiba')
Ibadah harus mengikuti sunnah Rasulullah tanpa ditambah atau dikurangi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah berkata mengenai amal yang diterima:
"Sesungguhnya amal yang ikhlas tetapi tidak benar (tidak sesuai sunnah) tidak akan diterima. Amal yang benar tetapi tidak ikhlas pun tidak diterima. Maka, amal harus ikhlas dan benar."
Kesimpulan:
Ahli ilmu telah bersepakat bahwa seseorang tidak boleh beramal kecuali dengan ilmu. Siapa yang hendak berpuasa, wajib mempelajari hukum-hukum puasa. Seluruh ibadah harus didasari ilmu, agar pelakunya mendapat dua pahala: pahala belajar dan pahala beramal.
Disusun oleh: Ustadz Kusdiawan
(Diambil dari kitab Al-Mukhtashar Al-Mufid fi Ahkam Shiyam wa Adab al-‘Īd karya Dr. Khālid ibn Maḥmūd al-Juhānī ḥafiẓahullāh)